tidak ada hitam tidak ada putih.
dulu keadaan tidak seperti ini, aku tidak tau kapan dan bagaimana ini bisa terjadi. tapi satu hal yang selau ada di pikiranku adalah kenapa aku? kenapa aku yang harus menerimanya? bukan kakak atau adik atau teman terdekatku? tentu saja aku tidak mengharapkan ini terjadi ke orang lain apalagi orang - orang yang aku sayangi, tapi lebih baik mereka daripada aku. pengecut, memang. mereka selalu bilang kalau ada masalah, hadapilah jangan dihindari. Tapi mereka tau apa? apa mereka pernah merasakan apa yang aku rasakan? apa mereka tau sejauh mana aku menderita? seberapa dalam aku terluka? tidak. Mereka hanya megulang omong kosong yang sama, tidak menyelesaikan masalah, hanya membuatku marah dan sesak.
Hari ini masih terasa sama seperti 2 tahun yang lalu, tahun - tahun sebelumnya mungkin lebih baik, lebih berwarna dan berkesan. Tapi sekarang aku mati rasa, dulu aku selalu tau aku lebih baik dari mereka, aku sombong, memang. tapi itu sudah ada di darahku, ibuku orang tersombong yang aku tau. Waktu itu aku pikir aku lah yang akan menjadi paling baik, orang lain tidak akan pernah lebih baik dari ku. Tapi ternyata aku salah.
mungkin ini terdengar biasa bagi sebagian orang, tapi bagiku pengalam hidup yang aku dapat selama 2 tahun ini sangatlah luar biasa, luar biasa buruknya, maksudku. Hari itu aku bangun seperti hari - hari suram sebelumnya, pusing, sesak, dan penuh kebencian. Sejak kejadian itu aku tidak bisa tidur, apakah ini yang mereka bilang insomnia? aku benci. bagiku tidur adalah suatu kenikmatan, tapi sekarang hal itu susah untuk kulakukan. Badanku berkeringat, aku bagun dan melihat jam. Masih ada 15 menit sebelum mandi, aku berusaha tidur lagi, tapi tidak bisa. Setiap kali aku memejamkan mata, pasti masa lalu langsung menghantuiku. Aku putuskan untuk bangun, membakar batang rokok pertama hari ini. Temanku yang paling setia, marlboro merah.
Aku beranjak dari tempat tidur, kamarku berantakan, tidak ada yang berubah sejak 2 tahun yang lalu. perih rasanya kalau mencoba merapihkan atau sekedar membereskan kamarku. Kulihat ibuku menyiapkan sarapan, ia menatapku dengan penuh kekecewaan, aku balas tatapannya dengan penuh kebencian yang dalam. Oke, memang aku salah. Tapi sampai kapan kau ingin menghukumku? aku banting pintu kamar mandi, kemudian mandi seadanya. Beribu pertanyaan masih ada dipikiranku, berteriak meminta jawaban satu - persatu. Aku benci.
Selesai berpakaian, aku minum segelas air putih dingin dan membiarkan sarapan yang ibuku siapkan. Aku tau ia menyiapkannya dengan penuh keterpaksaan, hanya sekedar obligasinya sebagai ibu dan bukan kasih sayang. Jadi, aku memutuskan untuk mengacuhkannya. Aku mencium tangan ibu dan ayahku tanpa sepatah kata pun, aku bisa melihat raut muka ayahku yang kasihan, melihat anak kesayangannya jatuh semakin dalam. Rasanya ingin kutanya bagaimana cara untuk keluar dari neraka ini? tapi ego ku terlalu besar, aku balas tatapannya dengan benci. Aku berjalan tenang ke arah garasi, tatapanku masih kosong, hawa pagi hari sedikit menghiburku. Tapi aku benci harus menghadapi mimpi buruk ini lagi.
Kunyalakan mesin mobilku, aku melihat kaca spion, dengan lambat aku mengeluarkan mobil dari rumah. Aku tidak memberikan tanda terima kasih kepada satpamku yang membukakan pagar, buat apa? aku lebih menderita dari dia. Dia tidak pantas menerimanya. Aku melaju pelan dengan tatapan kosong. Jalanan sepi hari ini, tapi aku benci memacu kendaraanku. Belum sampai 10 meter dari rumahku angkot - angkot dan motor sudah merusak mood ku lagi. Aku benci. Klakson mobilku ku tekan keras, lalu dengan pelan aku melewati angkot itu dari kanan, kubuka jendela kiriku, dan kuberikan jari tengah ku yang manis kepada sang supir. Hahaha, puas rasanya. motor - motor brengsek merusak pemandanganku pagi ini, tapi ini biasa, ya tapi bukan berarti aku tidak benci. Aku benci!
Parkiran sekolah masih sepi, aku memutuskan untuk berhenti sebentar di luar untuk merokok, lagi - lagi pikiranku melintas jauh, merindukan masa lalu yang indah sebelum menjadi kelam, saat - saat aku masih di atas jurang, sebelum aku tersandung dan jatuh. Batang kedua, aku melamun, sendiri. Ya, aku sudah biasa sendiri, bukan karena aku tidak bisa berteman, tapi aku lebih memilih untuk sendiri, aku benci orang yang menanyaiku apa kabar, aku benci orang yang menasehatiku untuk sabar, aku benci. Mereka tidak tau dan mereka sebaiknya diam dan jangan mengurusi urusan orang lain. Aku tidak ingat sejak kapan hatiku penuh dengan kebencian, aku pernah menjadi orang yang baik, yang senang berteman, yang senang bercanda. Tapi sekarang untuk menatap wajah orang saja sudah susah. Aku malu. Aku malu bila mereka tau apa yang aku rasakan, apa yang aku alami.
Parkiran sudah agak penuh, aku memutuskan untuk parkir di sebelah mobil sahabatku, sang petinggi. Aku mengambil tas, merapihkan rambut kotorku, menginjak sepatuku, memejamkan mata sedetik dan mengehela napas. Oke, waktunya memasang topeng. Kupasang senyumku dan berusaha menikmati pagi ini, aku berjalan santai dan cuek. Seorang teman menyapaku dan kubalas dengan senyum manis, topengku berfungsi sempurna hari ini pikirku. Betapa pedihnya setiap kali aku melihat halaman sekolahku bukan halaman sekolah yang sama. Butuh usaha menahan tangisku, tapi aku bisa bertahan. Aku gagal dalam berbagai hal, tapi dalam pura - pura aku sangat yakin dengan kemampuanku. Aku masuk ke kelas, aku memilih kursi paling belakang seperti biasa, melempar tas dan kemudian memakai belt dan sepatu. Berat, Aku benci. Aku benci pagi hari di sekolah, sekolah baru, teman baru, keadaan baru. Aku benci. Aku malu.
Hari yang sama, rasa yang sama, muka yang sama. Baru sedetik aku melonggarkan pertahananku, tiba - tiba kata2 tabu itu langsung saja dilontarkan temanku, sesak. sakit. pedih. dan sedih. Tapi topengku masih berfungsi dengan baik, aku tertawa getir membalas ejekannya, ingis rasanya aku menusuk dadanya dan memakan jantungnya. Tapi, mungkin memang ini yang harus kuterima, memang ini karma yang harus kuterima, kadang aku berpikir, dosa apa yang aku buat sehingga tuhan menghukumku sekejam ini. Kata mereka, kadang dunia tidak adil. Lucu, bagiku dunia selalu tidak adil, apalagi bagiku.
Jam terasa lama, aku kembali melamun diam, sampai saat ini aku masih bisa menyimpan kesedihanku dalam - dalam dan melepaskannya di malam hari saat semua orang tidur lelap dan mimpi indah, saat mereka berdoa agar esok hari lebih baik dari hari ini. Waktu tidur kumanfaatkan untuk meraung, membenci dunia yang tidak adil ini, aku menagis keras. Sendiri. Akhirnya jam sekolah, selesai. Mulutku terasa asam, aku berjalan sendiri ke arah luar sekolah untuk merokok. Hmm, nikmat memang temanku yang setia ini. Lagi - lagi ejekan mereka menembus pertahananku, tanganku bergetar kencang, aku tidak ingat bagaimana tanganku menjadi sering bergetar sendiri. Tapi, lagi - lagi topengku masih berfungsi. Aku balas senyum dan tertawa kecil.
Waktu bukanlah temanku, karena aku tidak punya tujuan. Mereka yang mengejar waktu adalah mereka yang punya tujuan, yang memiliki hasrat, dan ambisi. Jelas sekali, bukan aku. Aku tidak punya tujuan, aku berjalan buta sejak kejadian itu. Buta, pincang, dan berjalan di jurang yang sempit dan semakin lama semakin dalam. Tidak ada yang bisa membantu, tidak ada yang mengerti. Aku membuang waktuku tanpa penyesalan, aku tidak punya visi dan misi. Aku benci. Tapi itulah aku, Sekarang. Bukan berarti aku tidak pernah punya ambisi, aku pernah menjadi seorang yang penuh ambisi dan tekad, seorang yang bersemangat dan bergairah, tapi jiwaku letih dihajar pedihnya hidup. Hasrat hidupku hilang dan menggerogoti jiwaku yang semakin hari semakin lemah. Aku benci.
Setelah mendengarkan ocehan temanku yang tidak kuperhatikan sama sekali, aku pamit. Kembali berjalan sendiri, sekejap kusiapkan topengku kembali sebelum masuk kembali ke area sekolah, aku berjalan santai ke arah mobilku, beberapa temanku melambaikan tangan dan kubalas. Dengan cepat aku masuk mobil dan segera meninggalkan sekolah. Perlahan mobilku berjalan keluar sekolah, aku pura - pura tidak melihat teman - temanku yang melambaikan tangan. 1 meter setelah keluar dari sekolah, kucopot topengku dan wajahku kembali diliputi kesedihan, kupasang laguku sekencang - kencangnya, kupacu mobil ku ke arah rumah yang aku benci. yang aku hindari.
Abu - abu.
kulihat jam kamarku, sekarang jam 12. Tidak ada tanda - tanda aku akan tertidur, kembali aku memohon untuk bisa keluar dari jurang ini, lari dan lepas dari segalanya, kembali ke 2 tahun sebelum hari itu. Sebelum hidupku menjadi abu - abu. Sebelum semuanya hancur, sebelum aku harus memakai topeng. Ingin rasanya memutar waktu. sakit, sakit rasanya setiap detik pikiranku memberontak.
...
Apa besok aku masih bisa bertahan? aku lelah. Aku benci. Aku benci harus melewati neraka abu - abu yang sama besok. Sampai kapan aku bisa bertahan waras? sampai kapan jiwaku bisa bertahan dihantui masa lalu?
Kupejamkan mataku.
Kubiarkan pertahananku di tembus raungan kesedihanku, kubiarkan, aku biarkan diriku menangis dan meyesal. Kubiarkan tangan - tangan hitam itu merobek - robek jiwaku.
Aku memaksa untuk tetap menutup mataku.
Hanya abu - abu.
Friday, October 17, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment